Showing posts with label CPRO. Show all posts
Showing posts with label CPRO. Show all posts

Right Issue - Sinyal-sinyal darurat???

Posted by Investor Awam | Friday, March 20, 2009 | , , , , , , | 1 comments »

Beberapa bulan terakhir sejak krisis, aksi right issues meningkat di bursa. Tercatat ada beberapa contoh:
1. CPRO - Centraproteina --> untuk bayar hutang
2. BDMN - danamon ---> untuk mendongkrak CAR yang memburuk
3. EXCL (masih rencana) ---> untuk bayar hutang & capex

4. AHAP - Asuransi Harta Aman Pratama ---> untuk memenuhi ketentuan modal minimum
5. BNBR (masih rencana) ---> untuk bayar hutang
6. LPLI - Lippo E-net ---> untuk akusisi PT Multi media Interaktif

Dari beberapa contoh di atas, kelihatannya right issue lebih banyak digunakan pada saat keadaan sedang buruk2nya. Beberapa di antaranya menggunakan right issue ini untuk mengumpulkan dana karena gagal mendapatkan tambahan hutang.

Right issue sifatnya sedikit memaksa pemegang saham untuk membeli, karena jika tidak membeli maka akan ada hukumannya, yakni jumlah saham kepemilikannya akan terdilusi (total saham bertambah, sedangkan jumlah saham kita tetap. Sehingga percentase kepemilikan menjadi turun).

Ada komentar2 lain????? Silahkan tambah untuk menambah pengetahuan...


Lanjut baca artikel seru di atas....

CPRO - Lanjutan kasus Right Issue

Posted by Investor Awam | Monday, March 16, 2009 | | 0 comments »

Bapepam-LK akhirnya memvonis right issue CPRO batal dengan alasan RUPS independen yang digelar tgl 28 Nov 2008 tidak sah. Undang2 mensyaratkan RUPS yang sah adalah kehadiran pemegang saham independen sebesar 50%. RUPS independen CPRO pada saat itu memang tercatat 55,48%. Tetapi setelah melewati pemeriksaan, ternyata 9,51% adalah pemegang saham non-independen. So, pemegang saham independen yang hadir cuma 45% dan tidak memenuhi quota.

Sebelumnya, sempat ada kisruh tentang kejanggalan right issue CPRO. Coba baca di sini.
Akan menarik melihat apa yang akan terjadi antara PT Pertiwi dengan investor2 yang membeli saham darinya....


Lanjut baca artikel seru di atas....

CPRO - Kejanggalan "Right Issue"

Posted by Investor Awam | Wednesday, March 11, 2009 | | 0 comments »

Ini sedikit ringkasan:
1. CPRO adalah perusahaan pertambakan dan pengekspor udang.

2. CPRO mengeluarkan right issue tgl 15 Des 2008 (17,57 milyar saham x Rp 100/saham = Rp 1,76T). Awalnya persaham dinilai RP 200/saham sebelum direvisni menjadi Rp 100.

3. PT Pertiwi Indonesia (masih terafilisasi dengan CPRO) bertindak sebagai standy buyer. Awalnya standby buyer adalah PT Surya Hidup Satwa, sebelum diganti.

4. Dana rights issue digunakan untuk membayar utang Rp 1,7 triliun kepada Pertiwi Indonesia. Utang tersebut dari membeli PT Aruna Wijaya Sakti (dulu bernama Dipasena). Pat gulipat, sebenarnya utang tersebut berasal dari PT Surya Hidup Satwa (pemegang saham pengendali CPRO) yang mengalihkannya ke PT Pertiwi. Utang "tanpa bunga" ini akan jatuh tempo tahun 2014, dan telah disetujui CPRO utang akan dibayar dengan penerbitan saham baru.

5. Right issue yang Rp 100/saham ditanggapi secara negatif oleh bursa karena pada saat itu masih ditrading di harga RP86. Juga disinyalir akan meyebabkan penyusutan atau dilusi kepemilikan saham investor publik bertambah menjadi 43%. Sebaliknya, Keluarga Jiaravanon bisa kian menguasai perusahaan itu.

6. Right issues kurang laku karena memang dijual di atas harga pasar. Akhirnya saham right issue dieksekusi PT Pertiwi pada tanggal 19Des 2008. Porsi kepemilikan PT Pertiwi naik menjadi 44%. Namun belum sempat otoritas mencatat saham CPRO pasca right issue, PT Pertiwi sudah menjualnya ke 7 investors - Snow Lion Investment Limited, Raintree Assets Inc., Bedarra Ventures Inc, Tara Group, Arcotel Pacific Limited, Elite One Corporation, dan Enchanted Rise Investments. Porsi saham Pertiwi turun menjadi 9%.

7. Awal kepemilikan saham investor mayoritas yang lain adalah:
PT Surya Hidup Satwa, 45,14%
Red Dragon Pte Ltd, 11,92%
Charm Easy International 8,96%
Regent Central International 7,84%,
publik 26,14%.
Pasca right issue, kepemilikan rata2 jatuh 44%.

8. Kasus ini sudah diperiksa Bapepam-LK dan sudah sampai tahap akhir penyelidikan. Yang menjadi inti kecurigaan di sini adalah apakah ke-7 investors yang membeli dari PT Pertiwi terafilisiasi dengan CPRO (langsung atau tidak langsung)?

9. Besok sanksi CPRO bakal keluar.

Sekilas fundamental saham CPRO, dari idsaham.com:
1. Hutang meningkat (DER tiap tahun naik)
2. ROA menurun tetapi ROE meningkat. ROE yang meningkat lebih disebabkan pemeakaian hutang yang berlebihan. ROE 2007 = 23%, ROA 2007 = 6%.
3. Tahun 2007, walau trend profit meningkat, Operating CF minus berat.
4. Tahun 2008 (interim), Operating CF sudah banyak membaik.
5. kesimpulan: nggak bagus2 amat sih, kok jadi rebutan???


Lanjut baca artikel seru di atas....

CPRO - Central Proteinaprima

Posted by Investor Awam | Wednesday, July 30, 2008 | | 2 comments »

Description from IMQ21:

HTTP : www.cpprima.com, www.cpp.co.id

Sector : 14 (Integration of Shrimp Embankment)
Company Status : Agriculture
Foundation : PMDN

Shareholders
Surya Hidup Satwa, PT 37.19%
Public 27.17%
Red Dragon Group Pte.Ltd 14.29%
Charm Easy International Limited 10.74%
Regent Central Int`l Ktd.,British Virgin Iaslands 9.40%
Central Pertiwi, PT 0.65%
Perfect Companion Group Company Limited 0.37%

Iceland International Limited 0.19%

Balance Sheet: Saya melihat adanya pertumbuhan yang stabiul pada asset perusahaan. Namun sayangnya pertumbuhan ini cenderung didanai dengan hutang yang besar. Tahun 2003 dan 2004, hutang perusahaan sangat tinggi dibandingkan ekuitas, yaitu DER 6.0 pada 2003 dan DER 4.0 pada 2004. DER di atas 3 selalu dianggap memiliki resiko finasial yang besar. Tahun 2005, dengan melonjaknya ekuitas, DER membaik menjadi 1.16. Tapi DER memburuk kembali pada tahun 2006 dan 2007. Tahun 2007 DER mencapai 4.0 kembali. Warning! Warning!

P/L Staetment: Sekilas pandang, margin perusahaan pasti sangat kecil. Emang terbukti kalau net margin tidak pernah melebihi 6%, sedangkan operating margin tidak pernah melebihi 8.5% selama 5 tahun ini. Ada catatan khusus pada tahun 2003 dimana pada saat laba operasional minus, perusahaan mencetak laba bersih positif? Berarti net income ini bukan sumbangan operasional melainkan extraordinary item yang mungkin cuma muncul sesekali saja.

ROE perusahaan cukup bagus, yaitu tidak pernah di bawah 17% selama 5 tahun ini. Tahun 2007 ROE sudah mencapai 24%. Tapi informasi ini kurang lengkap jika kita tidak menganalisa ROAnya. Di sini ROA malah menurun seiring waktu. Dari 15% pada tahun 2004 menjadi 6% 2007. ROE yang besar di sini adalah permainan financial perusahaan belaka yaitu dengan meningkatkan hutang yang besar. Warning! Warning! Saya membuat artikel mengapa ROE harus dibarengi ROA yang bagus.

Operating CF: Perusahaan menghadapi masalah keuangan yang serius. Terjadi CF minus pada tahun 2006 dan 2007. Bahkan dari grafik cenderung terlihat terjun bebas pada tahun 2007. Busyet, negatif CF perusahaan mencapai RP 1T lebih? Laba perusahaan selama 5 tahun ini aza belum bisa mencapai setengahnya.

Rata2 CF perusahaan selama 5 tahun adlah negatif Rp143M. Agak susah untuk menghitung harga wajarnya dan pertumbuhan CFnya. Kabar baiknya adalah awal tahun 2008, CF perusahaan sudah positif walau masih sangat kecil....

update terbaru untuk semua saham IDX:

www.IDsaham.com


Lanjut baca artikel seru di atas....