CPRO - Kejanggalan "Right Issue"

Posted by Investor Awam | Wednesday, March 11, 2009 | | 0 comments »

Ini sedikit ringkasan:
1. CPRO adalah perusahaan pertambakan dan pengekspor udang.

2. CPRO mengeluarkan right issue tgl 15 Des 2008 (17,57 milyar saham x Rp 100/saham = Rp 1,76T). Awalnya persaham dinilai RP 200/saham sebelum direvisni menjadi Rp 100.

3. PT Pertiwi Indonesia (masih terafilisasi dengan CPRO) bertindak sebagai standy buyer. Awalnya standby buyer adalah PT Surya Hidup Satwa, sebelum diganti.

4. Dana rights issue digunakan untuk membayar utang Rp 1,7 triliun kepada Pertiwi Indonesia. Utang tersebut dari membeli PT Aruna Wijaya Sakti (dulu bernama Dipasena). Pat gulipat, sebenarnya utang tersebut berasal dari PT Surya Hidup Satwa (pemegang saham pengendali CPRO) yang mengalihkannya ke PT Pertiwi. Utang "tanpa bunga" ini akan jatuh tempo tahun 2014, dan telah disetujui CPRO utang akan dibayar dengan penerbitan saham baru.

5. Right issue yang Rp 100/saham ditanggapi secara negatif oleh bursa karena pada saat itu masih ditrading di harga RP86. Juga disinyalir akan meyebabkan penyusutan atau dilusi kepemilikan saham investor publik bertambah menjadi 43%. Sebaliknya, Keluarga Jiaravanon bisa kian menguasai perusahaan itu.

6. Right issues kurang laku karena memang dijual di atas harga pasar. Akhirnya saham right issue dieksekusi PT Pertiwi pada tanggal 19Des 2008. Porsi kepemilikan PT Pertiwi naik menjadi 44%. Namun belum sempat otoritas mencatat saham CPRO pasca right issue, PT Pertiwi sudah menjualnya ke 7 investors - Snow Lion Investment Limited, Raintree Assets Inc., Bedarra Ventures Inc, Tara Group, Arcotel Pacific Limited, Elite One Corporation, dan Enchanted Rise Investments. Porsi saham Pertiwi turun menjadi 9%.

7. Awal kepemilikan saham investor mayoritas yang lain adalah:
PT Surya Hidup Satwa, 45,14%
Red Dragon Pte Ltd, 11,92%
Charm Easy International 8,96%
Regent Central International 7,84%,
publik 26,14%.
Pasca right issue, kepemilikan rata2 jatuh 44%.

8. Kasus ini sudah diperiksa Bapepam-LK dan sudah sampai tahap akhir penyelidikan. Yang menjadi inti kecurigaan di sini adalah apakah ke-7 investors yang membeli dari PT Pertiwi terafilisiasi dengan CPRO (langsung atau tidak langsung)?

9. Besok sanksi CPRO bakal keluar.

Sekilas fundamental saham CPRO, dari idsaham.com:
1. Hutang meningkat (DER tiap tahun naik)
2. ROA menurun tetapi ROE meningkat. ROE yang meningkat lebih disebabkan pemeakaian hutang yang berlebihan. ROE 2007 = 23%, ROA 2007 = 6%.
3. Tahun 2007, walau trend profit meningkat, Operating CF minus berat.
4. Tahun 2008 (interim), Operating CF sudah banyak membaik.
5. kesimpulan: nggak bagus2 amat sih, kok jadi rebutan???

0 comments